RSS

Surat “Kecil” Untukmu, tor ..

tor = koruptor = kotor

setan : “….malang sekali nasibmu para koruptor, kau disebut kotor oleh anak kecil ini …”

tor : “tak masalah bagiku, yang penting aku samasekali tak pernah merasa kotor..”

setan : “bagus!”

tanggapan : “percakapan yang tolol!”


Ciamis, 9 Desember 2011

Bismillah,

Bapak dan ibu koruptor yang aku hormati,

Kenapa aku menggunakan kata “hormat”, karena agama aku mengajarkan aku untuk menghormati individu lain, apapun profesi mereka, dan hal inipun berlaku untuk bapak dan ibu yang berprofesi sebagai koruptor. Profesi, kenapa aku menyebut koruptor sebagai sebuah “profesi”, karena aku tahu, ketika bapak dan ibu melakukan korupsi itu, maka bapak dan ibu akan mendapatkan uang tambahan yang bisa digunakan untuk keperluan kehidupan bapak dan ibu. Maka, apa salahnya aku menyebut koruptor itu sebagai sebuah profesi, bukankah itu memberikan upah yang cukup besar?


Tor, jauh dari kata hormat dan profesi, aku tekankan judul yang aku cantumkan di atas itu bukanlah judul yang sebenarnya. Surat ini tidak akan menjadi surat yang kecil, karena aku yakini bahwa aku menulis lebih banyak dari 2 lembar kertas A4, dan butuh beberapa menit untuk membaca ini sampai akhir, dan tentu saja ini aku tulis khusus untukmu tor. Dan kenapa aku mau menulis ini untukmu? Sebenarnya, iklan di televisi yang menceritakan tentang perjalanan seseorang sehingga bisa menjadi seorang koruptor yang dipenjaralah yang membuat miris ketika aku melihatnya. Kenyataan bahwa seorang koruptor itu dikatakan sebagai seorang yang tidak memiliki kejujuran, dan kenyataan bahwa seorang koruptor itu lahir dari seseorang yang membiasakan diri melakukan hal curang semenjak ia masih dikatakan sebagai seorang anak-anak. Hal curang, hal curang apa? Mencontek salah satunya, dan tor aku beritahu kau, bahwa saat ini pun aku hidup di lingkungan labil yang dimana kata “mencontek” itu sudah menjadi hal yang lumrah dilakukan oleh anak seumuran aku, bahkan yang jauh lebih kecil dari aku pun sudah pasti mengetahui bagaimana tata cara mencontek yang baik dan benar itu. Dan aku sedikit yakin, bahwa kau akan sangat senang sekali ketika mendengar calon penerusmu itu lebih banyak dari kau dan teman seperjuanganmu yang lainnya.


Tor, ceritamu tentang bagaimana dengan mudahnya kau mengorupsi uang-uang Negara, mengorupsi uang-uang rakyat, mengorupsi uang yang ada di depan matamu, mengorupsi uang yang ada di laci-laci meja kerjamu, mengorupsi uang yang memenuhi deposito tabungan perusahaanmu, mengorupsi uang-uang yang kau paksa mereka untuk membayarkannya kepadamu. Mendapatkan uang dari jerih payahmu membebaskan kesalahan orang lain, mendapatkan uang dari keberanianmu membenarkan mereka di meja hijau, mendapatkan uang dari mereka yang ingin memanfaatkanmu untuk menghasilkan yang lebih dari itu, mendapatkan uang dari mereka yang tidak ingin kesalahan mereka tercium oleh public dan mendapatkan uang dari mereka yang tidak ingin bertanggungjawab atas apa yang mereka lakukan untuk terbebas dari jeruji besi itu, aku patut mengacungi keempat jempolku untukmu. Namun, aku yakini sekali lagi padamu bahwa keempat jempolku ini secara perlahan mengalami goncangan yang begitu hebat dan itu menyebabkan mereka terjungkir balik secara serentak, dan ini aku berikan khusus untukmu.


Tor yang saya hormati, aku tahu sebenarnya didalam lubuk hatimu yang terterterterterdalam, masih ada perasaan yang begitu lembut terasa. Aku yakin, pada awalnya kau sebenarnya tak menginginkan untuk menjadikan korupsi ini sebagai profesi barumu. Aku bisa mengerti bahwa kau terpaksa melakukan ini hanya karena kau berada dalam keadaan yang begitu mendesakmu. Aku bisa mengerti, kau melakukan ini karena kau merasa uang bulanan yang kau terima sebagai upah kerja kerasmu itu tidak berbanding lurus dengan kebutuhan hidupmu yang melimpah itu. Aku pun bisa mengerti, kau hanya ingin membuat orang-orang di sekitarmu merasakan bahagia ketika kau bisa memberi mereka sesuatu yang lebih dan membuat mereka senantiasa tersenyum untukmu. Tapi tor, itu hanyalah semua pikiran positifku kepadamu. Karena sejak dulu kala, aku senantiasa mencoba untuk berpikir positif kepada semua orang, dan termasuk kau. Namun, sayang sekali, pikiran positifku kali ini sangat sangat sangat jauh dari kenyataan. Ketika aku menemukan fakta, bahwa kau melakukan ini karena keinginanmu sendiri, ketika kau melakukan ini karena keserakahanmu, ketika kau melakukan ini karena kau merasa tidak cukup dengan hal yang kupikir itu jauh dari kata cukup, ketika kau melakukan ini hanya karena kau merasa berkuasa, ketika kau melakukan ini tanpa sama sekali peduli kepada siapapun, keluargamu saja tak kau pedulikan nasib masa depannya, apalagi rakyat yang dari mereka kau mendapatkan uang itu. Tor, aku yakini lagi, kali ini aku sungguh merasa kecewa padamu. Kecewa karena keserakahanmu itu.


Tor yang saya hormati, ada satu cerita yang ingin aku ceritakan padamu. Ini cerita tentang seorang bapak yang bekerja sebagai seorang pembersih Mesjid keliling. Setiap pagi, beliau senantiasa keluar meninggalkan gubuk kecilnya, dan berkeliling dari satu Mesjid ke mesjid lainnya. Beliau senantiasa membersihkan setiap Mesjid dengan upah yang aku pikir itu jauh dari kata “pantas”. Bayangkan saja tor, jika kau harus membersihkan sebuah mesjid, dari mimbar hingga tempat wudhu, dari rak sepatu hingga toiletnya, dan kau hanya diberi upah tidak lebih dari lima ribu rupiah. Padahal, jika kau tahu, untuk membersihkan kamar tidurku sendiri saja aku selalu mengeluh, tapi beliau tidak pernah mengeluh sama sekali ketika harus mengepel lantai mesjid setiap harinya. Tor, beliau pulalah yang senantiasa datang ke sekolahku dan membersihkan mesjid di sekolahku. Kau tahu tor, beliau sudah begitu tua, bahkan tua renta. Ketika beliau jalan pun, tubuh beliau sudah terlihat semakin merunduk, ketika beliau menyapu lantai pun, tubuh beliau akan semakin merunduk, dan ketika beliau membereskan sepatu-sepatu anak-anak sekolahku, beliau akan semakin semakin semakin merunduk untuk kami. Tapi tor, beliau masih bisa tersenyum untukku setiap harinya. Bahkan terkadang beliau selalu menyapaku ketika kita bertatap muka. Tor, sebenarnya beliau bisa saja mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari itu. Sebenarnya beliau bisa saja hanya duduk di pintu toilet salah satu mesjid yang ramai dikunjungi oleh masyarakat sekitar, untuk hanya sekedar menjaga kotak amal, oh bukan, maksudku kotak uang tarif penggunaan toilet. Padahal seandainya kau tahu, jika ia bekerja sebagai penjaga kotak uang tarif penggunaan toilet tersebut, beliau akan bisa mendapatkan uang lebih dari hanya sekedar beliau membersihkan mesjid satu persatu. Aku yakini jika beliau bekerja seperti itu, beliau tidak akan merasakan kelelahan setiap harinya. Aku bisa yakini itu. Namun tor, sayangnya, beliau sama sekali tidak mau melakukan pekerjaan itu. Beliau hanya menyatakan, bahwa lebih baik kekurangan daripada memakan yang bukan haknya. Sungguh mulia hatinya tor. Hanya untuk mengambil beberapa ribu rupiah dari kotak tarif penggunaan toilet saja beliau tidak mau, apalagi jika kau menyuruhnya mengambil uang yang ada di deposito tabungan perusahaanmu itu yang nilainya berjuta-juta rupiah. Aku yakin, beliau tidak akan mau, dan tidak akan pernah mau. Beliau tak sepertimu, tor.

Kenapa aku menceritakan ini padamu, aku hanya ingin kau paham bahwa kau samasekali tak lebih baik dari seorang pembersih mesjid keliling yang jujur. Bahkan kau sebenarnya lebih lebih lebih buruk dari beliau. Dan mulai saat ini, berhenti untuk membanggakan dirimu hanya karena kau memiliki banyak uang, hanya karena kau memiliki banyak orang kepercayaan, hanya karena jabatanmu itu lebih tinggi dari siapapun, dan hanya karena kau bisa mendapatkan apa yang kau mau. Aku ucap, mulai saat ini berhenti bersikap seperti itu. Kau bukanlah apa-apa bagiku dan bagi teman-temanku, kau tidak lebih dari hanya sekedar tong sampah besar yang dari dalamnya tercium bau busuk yang sangat sangat sangat busuk, sebusuk yang bisa orang bayangkan. Dan itu tandanya, kau sama sekali tak berharga di muka bumi ini tor.


Tor yang saya hormati, aku punya sedikit keinginan yang ingin aku sampaikan padamu. Aku ingin mengajakmu untuk membuat suatu perjanjian denganku. Tentu saja kau mau mendengarkan apa isi perjanjian yang kumaksud kan? Ya, dengar baik-baik. Tor, aku dan teman-temanku, aku dan orang tuaku, aku dan keluargaku, aku dan semua orang yang setuju denganku ingin menyatakan padamu, bahwa aku akan membolehkanmu untuk tetap berkorupsi. Namun, dengan satu syarat, yaitu jika kau berani berkorupsi maka kau harus berani bertanggungjawab atas apa yang engkau korupsi. Itu tandanya bahwa kau harus bisa mengembalikan hasil korupsimu itu ke tempat semula tidak lebih dari waktu yang disepakati. Bagaimana?


Semua teman-temanku akan menertawakanku jika aku menceritakan tentang perjanjian ini. Ya, mana mungkin ada seorang koruptor yang senantiasa bertanggungjawab dan senantiasa mengembalikan uang hasil korupsinya. Namun tor, jika memang kenyataannya seperti itu, maka perjanjianku pun tidak ada salahnya. Perjanjianku itu memang benar, itu menunjukkan bahwa sama sekali tak akan ada yang menghalalkan semua yang kau lakukan jika itu atas nama “korupsi”. Kau mengerti tor? Kau orang yang jenius, dan kau pasti lebih cerdas dari orang-orang disekitarmu, jadi apa kau mengerti? Ya, aku yakin kau pun mengerti.

Tor, setelah aku berbicara panjang lebar, pada akhirnya aku ingin meyakinkanmu bahwa korupsi itu tidak ada gunanya. Dan aku ingin meyakinkanmu, bahwa aku dan teman-temanku dan seluruh orang yang setuju denganku akan menyatakan bahwa kami anti korupsi, walaupun aku tetap menghormatimu, namun aku tetap akan anti dengan apa yang telah kau lakukan itu. Dan tor, aku mohon mulai saat ini buka matamu lebar-lebar, lihatlah bahwa disana, di luar sana masih banyak yang membutuhkan pertolonganmu, masih banyak yang memimpikan sesuatu atas nama “kesejahteraan”, masih banyak di antara mereka yang dengan susah payah menghentikan air mata yang selalu saja mengalir dari lembah air mata mereka. Dan aku salah satu pemimpin muda yang peduli terhadap mereka. semoga kau mengerti akan hal itu. Dan tentu saja tor, semoga Allah senantiasa berada di sampingmu, dan semoga Allah dapat membukakan hatimu untuk kami disini. Amin.



oleh : Siti Hajar Riyanti

Memperingati Hari Anti KORUPSI

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar: